Gudang Ilmu
Kamis, 26 November 2015
Sholat Sebagai Terapi Dzikir
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dewasa ini, kecanggihan dunia medis
tampaknya mulai diiringi oleh perkembangan berbagai pengobatan alternative yang
menjamur dimana-mana. Sebagian orang sudah mulai melirik metode-metode terapi
yang dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki titel dokter. Semakin banyak
obat dan perangkat medis yang ditemukan, semakin banyak pula penyakit yang
bermunculan. Dan bagaimana dengan penyakit- penyakit yang telah mendarah daging
di kehidupan manusia yakni penyakit-penyakit jiwa? Bagaimana cara penyembuhan
penyakit-penyakit tersebut? Disinilah penulis ingin memberitahukan cara
pengobatan penyakit jiwa dengan dzikir, yang mengambil dari banyak refrensi.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apakah pengertian
terapi dan dzikir?
2.
Bagaimana hubungan
terapi dengan dzikir?
3.
Bagaimana
manfaat dan dzikir yang dianjurkan oleh syariat?
4.
Apa saja
jiwa-jiwa yang dimiliki manusia?
5.
Bagaimana bacaan
sholat sebagai terapi?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Terapi dan Dzikir
Terapi
adalah upaya pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan kondisi psikologis.[1]
Terapi dalam bahasa inggris bermakna pengobatan dan penyembuhan, sedangkan
dalam bahasa arab, kata ini sepadan dengan الاستشفاء
yang mempunyai makna penyembuhan.[2]
Dalam
pengertian luas, terapi dapat berarti pengobatan penyakit secara
kerohanian. Terapi mengandung makna penerapan teknis khusus dalam penyembuhan
penyakit mental atau kesulitan penyesuaian diri. Terapi juga mempunyai makna
upaya sistematis dan terencana dalam menanggulangi masalah-masalah yang
dihadapi klien dengan tujuan mengembalikan, memelihara, menjaga, dan
mengembangkan kondisi klien agar akal dan hatinya berada dalam kondisi dan
posisi yang proporsional. Manusia-manusia yang akal dan kalbunya yang
proporsional inilah yang merupakan sosok manusia yang sehat serta bahagia dunia
dan akhirat.[3]
Dzikir
berasal dari kata dzakara, artinya mengingat, memerhatikan, mengenang, sambil
mengambil pelajaran, mengenang atau mengerti.[4]Al-
Qur’an menjelaskan bahwa dzikir berarti membangkitkan daya ingat dan kesadaran.
“
…dengan mengingat Allah (dzikrullah), hati orang-orang beriman menjadi tenang,
ketahuilah dengan mengingat Allah SWT, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-
Rad[13]:28)
Dzikir
berarti pula ingat terhadap hukuman-hukuman Allah SWT.
“
sesungguhnya Allah SWT menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi
kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.
Dan memberi pelajaran kepada kamu agar kamu dzikir (mengambil pelajaran).
Termasuk
dalam pengertian dzikir ialah do’a, membaca Al- Qur’an, tasbih, tahmid, takbir,
tahlil, istigfar, hauqalah, dan lain sebagainya. Dzikir dalam pengertian
ingatan atau mengingat Allah SWT hendaknya dilakukan pada setiap saat, artinya
kegiatan apapun yang dilakukan oleh seorang muslim dimanapun ia berada,
hendaknya senantiasa mengingat Allah SWT, sehingga melahirkan cinta beramal sholeh kepada Allah SWT dan malu berbuat
dosa dan maksiat kepada- Nya.[5]
B. Hubungan
Terapi dan Dzikir
Sebagian ahli kedokteran jiwa telah
meyakini bahwa penyembuhan penyakit
klien dapat dilakukan lebih cepat jika memakai cara pendekatan
keagamaan, yaitu dengan membangkitkan potensi keimanan kepada Tuhan lalu
menggerakkannya ke arah pencerahan bathiniah. Dengan kondisi batin yang
tercerahkan inilah, akhirnya timbul kepercayaan diri bahwa Tuhan adalah
satu-satunya kekuatan penyembuhan dari berbagai penyakit yang dideritannya. Kepercayaan inilah yang
menjadi daya dorong yang kuat bagi kesembuhan penyakit batin yan dialami
manusia.
Sebagian orang mengakui bahwa dzikir
juga mengandung terapi untuk menghilangkan gangguan setan. Selain itu, dzikir
juga dapat mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa. Membuat kepribadian
tampak mengesankan , memulihkan dan menghidupkan hati, menghapus kesalahan dan
kekhilafan, menjaga perkataan dari gossip dan fitnah, obat bagi seluruh macam
penyakit, menghilangkan sifat kepurak-puraan atau sifat munafik.
Dari penjelasan ini, tampak bahwa ada
hubungan yang erat antara dzikir dengan terapi. Dan, dzikir merupakan cara yang
terbaik untuk mengobati penyakit-penyakit, khususnya penyakit kerohanian.
C. Manfaat
dan Dzikir yang Dianjurkan oleh Syariat
a. Manfaat
Berdzikir
1. Memantapkan
hati
2. Energy
akhlak
3. Terhindar
dari bahaya
4. Terapi
jiwa
b. Dzikir
yang dianjurkan oleh syariat
Diantara
dzikir shahih yang sering diucapkan oleh Nabi SAW adalah penghulu istigfar,
yang bunyinya:
اللهم
انت ربي لا اله الا انت خلقتني وانا عبدك وانا على عهدك ووعدك ما استطعت اعوذبك من
شر ماصنعت ابوءلك بنعمتك علىي ابوءلك بذنبي فاغفرلي فاءنه لا يغفر الذنوب الاانت
“
Ya Allah SWT, Engkau adalah Tuhanku,tiada Tuhan yang wajib disembah selain
Engkau. Engkaulah yang telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu dan aku
berada dalam janji dan ikrar kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan yang telah aku lakukan, aku mengakui semua nikmat yang telah Engkau berikan
kepadaku, dan aku mengakui semua dosaku, maka ampunilah daku, karena
sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa-dosa,selain engkau.”[6]
Dzikir
lainnya adalah yang disebutkan dalam hadits yang telah terbukti keshahihannya.
Dzikir yang paling afdhal yang diucapkan oleh seseorang pada siang dan malam
hari, yaitu:
سبحان
الله وبحمده عدد خلقه ورضا نفسه وزنةعرشه ومدادكلماته
“
Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya,
ridha diri-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta-tinta
kalimat-Nya.”[7]
Bila
berada pada pagi hari, ucapkanlah dzikir berikut sebanyak tiga kali:
اعوذبكلماتالله
التامات من شر ما خلق
“
aku berlindung dengan menyebut kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna, dari
kejahatan semua makhluk.”[8]
Bila
berada pada pagi hari dan petang hari, ucapkanlah dzikir berikut sebanyak tiga
kali:
بسم
الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الارض ولا في السماء وهو السميع العليم
“
Dengan menyebut nama Allah SWT yang dengan menyebut nama-Nya tidak akan dapat
menimbulkan bahaya sesuatu pun. Baik yang ada dibumi maupun yang ada dilangit,
dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mendengar.”[9]
D. Cara Berdzikir
Dzikir
yang diperintahkan Allah SWT dapat dilakukan dengan qauliy, yakni dengan
mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil, dan sebagainya. Dengan kata lain dzikir
dengan menyebut nama Allah SWT dan sifat-Nya. Dalam kaitan ini Allah SWT
memerintah:
“
…dan sebutlah Tuhanmu (waktu) pagi dan petang.”(QS.Al- Insan[76]:25)
Pada
dasarnya, dzikir dilaksanakan dalam beberapa cara dan kesopanan tertentu sesuai
dengan pinsip-prinsip yang ditentukan oleh Al- Qur’an dan contohnya oleh
Rasulullah SAW, yakni dilakukan dengan merendahkan diri, dan penuh takut, tidak
mengeraskan suara. Namun dalam tempat yang khusus, seperti dirumah atau
ditempat lain yang sekiranya tidak mengganggu orang lain, kita diperintah untuk
berdzikir dengan suara keras sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat
An-Nur:
“
Di masjid-masjid, Allah SWT mengizinkan untuk mengingat dan menasbihkan Allah
SWT dengan suara keras pada pagi dan petang.”(QS.An-Nur[24]:36)
Ayat
tersebut bisa dibandingkan dengan surat Al-Mulk[67]:13). Rasulullah SAW pernah
menegur sahabatnya yang berdzikir dengan suara keras. Nabi SAW memberi
petunjuk:
“
Hai manusia berlemah-lemahlah atas dirimu. Ketahuilah bahwa engkau tidak
menyeru kepada yang pekak atau yang jauh. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan
dekat.”
Dengan
demikian, etika dzikir ialah dengan suara sedang,tidak keras, dan tidak lirih.
Model
dzikir yang kedua ialah dzikir sirr
atau dzikir qalbi, yaitu berdzikir tanpa suara hanya difokuskan didada sebelah
kiri, misalnya merasakan ismudz dzat : “Allah”, dengan cara lidah ditempelkan
dilangit-langit mulut, mata terpejam, dagu agak menunduk kekiri, pusatkan
pikiran dan perasaan kedada sebelah kiri, dua jadi dibawah dada.
Model
dzikir yang ketiga ialah dzikir Ar-Ruh, yaitu dzikir dalam arti seluruh jiwa raganya tertuju untuk
selalu ingat kepada-Nya. Dzikir yang keempat ialah dzikir fi’liy(aktivitas
social), yakni berdzikir dengan melakukan kegiatan praktis, amal sholeh, dan
menginfakkan sebagian harta untuk kepentingan social, melakukan hal-hal yang
berguna bagi pembangunan bangsa dan Negara serta agama.
Dzikir
yang kelima ialah dzikir afirmasi, yaitu dzikir dengan mengucapkan kata-kata
positif. Dilaksankan di pagi hari dan petang, sebelum matahari terbit dan
matahari terbenam. Model dzikir yang keenam ialah dzikir pernafasan atau
pernafasan dzikrullah.
E. Jiwa
Manusia
Jika
dipandang secara keseluruhan, manusia terdiri atas dua dimensi, yaitu dimensi jasmani dan
dimensi rohani. Unsur rohani yang dimaksud ialah jiwa.
Socrates
mengatakan bahwa jiwa merupakan wujud rohani yang lepas (independen). Jika
wujud itu diabaikan atau ditinggalkan, niscaya akan timbul kebodohan dan akal
memproduksi pemikiran-pemikiran yang mandul serta resah. Plato juga mengatakan
bahwa jiwa berada itu adalah substans yang independen dari anggota tubuh dan
hubungan diantara keduanya, yaitu antara jiwa dan jism. Al-Hakim At-Tirmdzi
mengatakan bahwa pengertian jiwa ialah:
“Jiwa
merupakan bunyi syahwat yang cenderung pada syahwat selain melakukan syahwat
dan harapan setelah melakukan harapan. Jiwa tidak pernah merasa tenang dan
diam, perbutan-perbuatannya selalu berbeda. Perbuatan satu dengan perbuatan
yang lainnya sama sekali tidak mengandung kesamaan. Pada suatu saat berupa ubudiyah,
pada saat yang lain berupa rububiyah. Pada saat yang lain berlagak menyerah, dan pada saat yang lain bersifat ingin
memiliki kekuatan. Namun demikian, jika jiwa itu dilatih, niscaya dapat
diarahkan.[10]
Al-Kharaj
mengatakan: “ jiwa itu diumpamakan air yang tergenang suci, dan bersih. Jika
air itu digerakkan, akan tampak kekotoran yang terdapat dibagian dasar air.
Begitu juga jiwa akan tampak, jika diuji apakah jiwa itu sabar atau menentang.
Barang siapa yang tidak mengenal jiwanya, bagaimanakah ia akan mengenal
Rabb-nya?” Al- Junaidi berkata: “ Sesungguhnya jiwa apabila meminta sesuatu
kepada tamu, terus menuntut sampai kapanpun sampai berhasil, kecuali jika jiwa
itu tetap berada didalam al mujahadah, sampai jiwa itu terbiasa dengan
kejujuran dan
al mujahadah.”[11]
At-Tirmidzi
memiliki tiga pendapat mengenai jiwa, yaitu:
1. An-Nafs
(jiwa) bermakna nafas yang dapat memberikan hidup dan nafas itu terpancar dari
roh, seperti meluapnya sesuatu keatas kebawah.
2. An-Nafs
(jiwa) sebagai gharijah (insting) yang dihiasi oleh setan dengan segala bentuk
tipu daya yang bertujuan untuk menang dan merusak. Dalam posisi ini jiwa sangat
lemah dihadapan setan.
3. An-Nafs
(jiwa) sebagai teman dan penolong setan dan jiwa semacam ini ikut serta dalam
kesehatan, dalam kesejahteraan, bahkan merupakan bagian dari kejahatan.
F. Bacaan
Sholat Sebagai Terapi
1. Takbiratul
ihram
Takbiratul
ihram ialah bacaan “ Allahu Akbar”. Bacaan ini merupakan sebuh pengakuan, bahwa
Allah Maha Besar, sementara kita hanyalah makhluk kecil yang tak berarti
dihadapan Allah. Dia yang menciptakan alam semesta. Allah yang
mengatur,memelihara, dan menguasainya. Disini terdapat pengakuan bahwa
kesombongan kita, kebesaran nama kita, ketinggian derajat kita dihadapan
manusia, semuanya tidak berarti apa-apa di “mata” Allah SWT. Tidak adanya
takabur (merasa paling besar, paling tinggi, paling kaya, dan lain sebagainya),
ujub (merasa ada yang lebih dari pada diri kita disbanding dengan orang lain,
sehingga kita merasa bangga berlebihan pada diri sendiri), ria (suka pamer),
dan sifat-sifat negative lainnya. Semua sifat itu telah membuat kita dibenci
semua orang, baik secara sadar, maupun tidak. Padahal jika sifat-sifat itu
hilang, niscaya kita akan disukai Allah dan banyak orang.
Ucapan
takbiratul ihram yang mencapai 94 kali dalam 17 rakaat, apabila dihayati, maka
akan dapat menghilangkan sifat-sifat buruk tersebut.
2. Iftitah
Iftitah,
sesuai dengan namanya adalah doa pembuka
dalam sholat. Sama seperti takbiratul ihram, doa iftitah merupakan serangkaian
pengakuan yang jujur atas kebesaran Allah SWT. Doa yang dibaca antara lain:
الله
اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا, وسبحان لله بكرة ا و اصيلا. اني وجهت وجهي للذي فطر
السموات والارض حنيفا مسلما وما انا من المشركين. ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي
لله رب العالمين.لا شريك له وبذالك امرت وانا من المسلمين
“ Allah Maha Besar, segala kebesaran hanyalah
milik-Mu, semua pujian hanyalah untuk-Mu, Maha suci Engkau ya Allah, pada pagi
dan sore. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku dan segenap organ tubuhku, hanya
kepada-Mu, wahai yang Maha Mencipta langit dan bumi. Aku menghadap diriku
dengan tulus dan dengan penuh ketundukan dan aku bukanlah orang-orang yang
menyekutukan-Mu. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya
untuk-Mu wahai Tuhan yang menguasai alam semesta. Tiada sekutu bagi-Nya, dan
atas dasar itulah aku akan berbuat segala sesuatu di muka bumi, dan aku adalah
bagian dari orang-orang yang berserah diri.”
Doa
diatas adalah bentuk kepasrahan diri secara total kepada Allah SWT, secara
etika, seseorang yang
berdo’a hendaknya dengan sungguh-sungguh, dengan kepasrahan, dan ketundukan
hati secara penuh menghadap Allah.
Doa
ini mengajarkan kita agar selalu merendah dalam bergaul dengan sesama, optimis dengan berserah diri kepada
Allah SWT, setia dengan tidak menyekutukannya dengan orang lain. Orang yang
menyombongkan diri, jika memahami dan menghayati bacaan ini, mesti tidak lagi
berbuat yang sama, orang yang suka pesimis, niscaya akan bangkit dengan tawakal
kepada Allah, yakin usahanya mencapai sesuatu. Orang yang suka selingkuh,
dengan falsafah do’a ini, niscaya tidak akan selingkuh. Sikap mental optimis,
setia, dan rendah hati adalah sikap yang dibawa oleh pikiran dan perasaan orang
yang sholat. Salah satu terapi mental terletak pada bagian ini.
3. Surat
Al-Fatihah
Dikatakan
Al-Fatihah, karena surat ini berfungsi sebagai pembuka. Dalam sholat, surat ini
menjadi rukun yang harus dilakukan.
“
segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Tuhan yang menguasai hari pembalasan. Kepada-Mu-lah
kami menyembah, dan kepada-Mu-lah kami memohon pertolongan. Tunjukanlah kami
jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat.
Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan orang-orang yang
sesat.”
Beberapa
hal yang harus digaris bawahi tentang doa dalam Al-Fatihah, antara lain
keinginan untuk menggantungkan segala urusan kepada Allah, keinginan untuk
mendapatkan jalan yang benar,dan keinginan agar terhindar dari kemurkaan Allah.
Keinginan-keinginan
tersebut jika ditindak lanjuti,maka akan membuahkan sikap positif. Sikap positifnya
terletak pada kemauan keras untuk selalu berbuat baik,optimis usaha pasti
berhasil, sebab
digantungkan pada kehendak Allah, dan selalu berusaha menghindar dari
perbuatan-perbuatan yang bakal dimurka Allah. Mentalis semacam ini akan sangat
bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan hubungan dengan makhluk di muka bumi.
4. Ayat-ayat
pendek
Membaca
ayat-ayat pendek, selain adakalanya berupa doa, berupa peringatan, dan lain
sebagainya, ia juga akan berefek positif tehadap pendengaran jika dibaca dengan
indah.sebagai mana telah diketahui bahwa suara indah akan membawa efek terapi,
yang disebut dengan sound therapy.
5. Rukuk
Bacaan
rukuk adalah ungkapan pujian akan kemaha
kuasaan dan keagungan Allah. Kalimat yang lazim di ucapakan adalah:
سبحان
ربي العظيم وبحمده
“
Maha suci Engkau, Tuhan yang Maha Agung dan Maha Terpuji”.
Ungkapan
ini sekaligus memberikan tuntutan agar kita tidak menganggap bahwa diri kita
adalah yang paling suci, paling agung, di antara manusia yang lain. Dengan
demikian kita tidak akan memandang orang lain secara hina.
Sikap
dan bacaan ini, adalah terapi psikis bagi orang-orang yang memiliki sikap
sombong dan suka memandang rendah orang lain. Dari bacaan ini ada pengakuan
bahwa hanya Allah yang Maha Suci, Maha Agung. Sehingga, pandangan seseorang
yang shalat terhadap orang lain akan menjadi setara.
6. Iktidal
سمع
الله لمن حمده
“
Allah pasti mendengar orang-orang yang memuji-Nya.”
Kemudian
dilanjutkan dengan berdo’a:
ربنا
ولك الحمدملءالسموات وملءالارض وملءماشعت من شيء بعد
“
Wahai Tuhan kami. Untuk-Mulah pujian yang kami sampaikan, pujian meliputi
langit dan bumi segala sesuatu keduanya.
Ketika
membaca bacaan rabbana walakal hamdu, lepaskan hati kita dari sifat congkak,
sombong, dan pongah, karena sama sekali tidak berhak untuk dipuji, hanya Dia
yang berhak untuk dipuji, jika masih ada sifat-sifat tersebut, maka lepaskan,
serahkan segala kepada-Nya.
7. Sujud
Sujud
dilakukan sesudah I’tidal dengan ungkapan tersebut, kemudian dipertegas dalam
gerakan sujud. Oleh karena itu adalah posisi ketundukan total kepada-Nya. Kita
benar-bear tak berdaya dihadapan-Nya. Ungkapan yang disampaiakan:
سبحان
ربي الاءعلي وبحمده
“
Maha Suci Engkau, Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha terpuji karena-Nya.”
Biasanya
kata sujud sering diungkapkan ketika seseorang merasa muak dengan orang lain
yang menyalahi dirinya. Ia enggan untuk memaafkan, maka kalimat yang keluar
bisa seperti “ aku tak sudi memaafkannya, meski ia bersujud dihadapanku”.
Manusia tidak berhak disembah, yang boleh disembah hanyalah Allah SWT. Untuk
menghilangkan ego semacam ini, dilakukan dengan memahami dan menghayati makna
sujud secara mendalam.
8. Duduk
diantara Dua Sujud
Kalimat
yang dibaca pada saat duduk diantara dua sujud adalah kalimat doa yang
merupakan kebutuhan hidup kita sehari-hari. Doa ini berisi delapan permohonan
manusia yaitu ampunan, kasih asayang, menutup kekurangan, diangkat derajat,
rezeki, kesehatan, dan pemaaf.
Menghayati
setiap kata dalam doa ini akan membuat kita sadar bahwa segala sesuatu yang
kita usahakan di dunia ini hanyalah atas kehendak Allah.
9. Tasyahud
Dikatakan
tasyahud karena di dalam bacaan ini terdapat syahadat Tasyahud merupakan
penegasan kesetiaan dan komitme kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Selain itu,
Tasyahud berbentuk dialog yang cantik antara manusia dengan Tuhan.
10. Salam
Salam,
megucapkan doa keselamatan untuk orang lain, dengan cara menengok ke kanan dan
kekiri, sebagai pertanda bahwa shalat telah selesai. Ucapan dan gerakannya
mengandung pengertian bahwa setelah shalat kita tidak boleh melupakan
sekeliling kita.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Terapi adalah upaya pengobatan yang
ditujukan untuk penyembuhan kondisi psikologis. Dzikir berasal dari kata
dzakara, artinya mengingat, memerhatikan, mengenang, sambil mengambil
pelajaran, mengenang atau mengerti. Sebagian orang mengakui bahwa dzikir juga
mengandung terapi untuk menghilangkan gangguan setan. Selain itu, dzikir juga
dapat mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dari penjelasan
ini, tampak bahwa ada hubungan yang erat antara dzikir dengan terapi. Dan,
dzikir merupakan cara yang terbaik untuk mengobati penyakit-penyakit, khususnya
penyakit kerohanian. Manfaat Berdzikir: Memantapkan hati, Energy akhlak, Terhindar
dari bahaya, Terapi jiwa.
Dzikir
yang diperintahkan Allah SWT dapat dilakukan dengan qauliy, yakni dengan
mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil, dan sebagainya. Dengan kata lain dzikir
dengan menyebut nama Allah SWT dan sifat-Nya. Model dzikir yang kedua ialah
dzikir sir atau dzikir qalbi, Model dzikir yang ketiga ialah dzikir Ar-Ruh, Dzikir
yang kelima ialah dzikir afirmasi. At-Tirmidzi memiliki tiga pendapat mengenai
jiwa, yaitu:
1. An-Nafs (jiwa) bermakna nafas yang dapat
memberikan hidup dan nafas itu terpancar dari roh, seperti meluapnya sesuatu
keatas kebawah.
2. An-Nafs
(jiwa) sebagai gharijah (insting) yang dihiasi oleh setan dengan segala bentuk
tipu daya yang bertujuan untuk menang dan merusak. Dalam posisi ini jiwa sangat
lemah dihadapan setan.
3. An-Nafs
(jiwa) sebagai teman dan penolong setan dan jiwa semacam ini ikut serta dalam
keshatan, dalam kesejahteraan, bahkan merupakan bagian dari kejahatan.
Bacaan Sholat
Sebagai Terapi yaitu dalam bacaan
Takbiratul ihram, Iftitah,surat al-fatihah, surat pendek, rukuk, I’tidal,
sujud, Duduk diantara Dua Sujud, Tasyahud,salam.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Bukhari,Shahih
Bukhari,Sulaiman Mar’i,Singapura,tt.
Al-Ghazali,Ihya’Ulum ad-Din,Masyhad
al-Husaini,Kairo,tt.
Al-Munawir
, Ahmad Warson, Al- Munawi;Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Progresif,1997.
Al-Qorni
,Aidh bin Abdullah. Hidupkan Matamu (Bandung: Irsyad Baitus Salam,2005).
An-Najar,Amir.
Ilmu Jiwa dalam Tasawuf . Jakarta:Pustaka Azzan,2001.
Gerald,
Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung:Eresco,1995.
J.P, Chaplin, Kamus Lengkap
Psikologi . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1999.
Muslim,Shahih
Muslim,Masyhad al-Husaini,Mesir,tt.
Syukur,M.
Amin, dan Fatimah Usman. Terapi Hati (Jakarta:Penerbit Erlangga,2012).
Syukur,M.
Amin. Sufi Healing:Terapi dengan Tasawuf. Jakarta:Penerbit
Erlangga,2012.
Solihin,
Terapi Sufistik; Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Perspektif Tasawuf .Bandung:Pustaka
Setia,2004.
Tirmidzi,Hakim,Bayan
al-firaq baina Qalb,Shadr,Fu’ad wa Lubb,Kairo, Maktabah Misriyah,tt.
[1] J.P, Chaplin, Kamus
Lengkap Psikologi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1999)h.507.
[2] Ahmad Warson Al-Munawir,
Al- Munawi;Kamus Arab-Indonesia ( Yogyakarta: Pustaka Progresif,1997)h.1545.
[3] Gerald, Teori dan
Praktek Konseling dan Psikoterapi (Bandung:Eresco,1995)h.6.
[4] M. Amin Syukur, dan Fathimah
Usman, Terapi Hati (Jakarta:Erlangga,2012)h.59.
[5] Solihin,
Terapi Sufistik; Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Perspektif Tasawuf (Bandung:Pustaka
Setia,2004)h.85.
[6] (Bukhari No.
6161,6178, Tirmidzi No.3524,dan Ahmad No. 16785, 16804)
[7] (Muslim No.6863, Abu
Dawud No. 1504, dan Tirmidzi No.3698).
[8]
(Muslin No.6829, Tirmidzi No. 3570, dan Ahmad No. 26719).
[9]
(Abu Dawud No.5083, Tirmidzi No.3519, Ahmad No. 476,529, Nasai dalam Al- Kubra
No.9747.10081,dan Ibnu Majah No.3953, Al- Misykat No.2391)
[10] Amir An-Najar, Ilmu
Jiwa dalam Tasawuf (Jakarta:Pustaka Azzan,2001).h.22
Langganan:
Postingan (Atom)