.mbt-pager { border-top: 2px dashed #ddd; border-bottom: 2px dashed #ddd; margin-bottom: 10px; overflow:hidden; padding:0px;} .mbt-pager li.next { float: right; padding:0px; background:none; margin:0px;} .mbt-pager li.next a { padding-left: 24px; } .mbt-pager li.previous { margin:0px -2px 0px 0px; float: left; border-right:1px solid #ddd; padding:0px; background:none; } .mbt-pager li.previous a { padding-right: 24px; } .mbt-pager li.next:hover, .mbt-pager li.previous:hover {background:#333333; } .mbt-pager li { width: 50%; display: inline; float: left; text-align: center; } .mbt-pager li a { position: relative; min-height: 77px; display: block; padding: 15px 46px 15px; outline:none; text-decoration:none;} .mbt-pager li i { color: #ccc; font-size: 18px; } .mbt-pager li a strong { display: block; font-size: 20px; color: #ccc; letter-spacing: 0.5px; font-weight: bold; text-transform: uppercase; font-family:oswald, sans-serif, arial; margin-bottom:10px;} .mbt-pager li a span { font-size: 15px; color: #666; font-family:oswald,Helvetica, arial; margin:0px;} .mbt-pager li a:hover span, .mbt-pager li a:hover i { color: #ffffff; } .mbt-pager li.previous i { float:left; margin-top:15%; margin-left:5%; } .mbt-pager li.next i { float: right; margin-top: 15%; margin-right: 5%; } .mbt-pager li.next i, .mbt-pager li.previous i , .mbt-pager li.next, .mbt-pager li.previous{ -webkit-transition-property: background color; -webkit-transition-duration: 0.4s; -webkit-transition-timing-function: ease-out; -moz-transition-property: background color; -moz-transition-duration: 0.4s; -moz-transition-timing-function: ease-out; -o-transition-property: background color; -o-transition-duration: 0.4s; -o-transition-timing-function: ease-out; transition-property: background color; transition-duration: 0.4s; transition-timing-function: ease-out; } .fa-chevron-right {padding-right:0px;}

Kamis, 26 November 2015

Sholat Sebagai Terapi Dzikir


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dewasa ini, kecanggihan dunia medis tampaknya mulai diiringi oleh perkembangan berbagai pengobatan alternative yang menjamur dimana-mana. Sebagian orang sudah mulai melirik metode-metode terapi yang dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki titel dokter. Semakin banyak obat dan perangkat medis yang ditemukan, semakin banyak pula penyakit yang bermunculan. Dan bagaimana dengan penyakit- penyakit yang telah mendarah daging di kehidupan manusia yakni penyakit-penyakit jiwa? Bagaimana cara penyembuhan penyakit-penyakit tersebut? Disinilah penulis ingin memberitahukan cara pengobatan penyakit jiwa dengan dzikir, yang mengambil dari banyak refrensi.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian terapi dan dzikir?
2.      Bagaimana hubungan terapi dengan dzikir?
3.      Bagaimana manfaat dan dzikir yang dianjurkan oleh syariat?
4.      Apa saja jiwa-jiwa yang dimiliki manusia?
5.      Bagaimana bacaan sholat sebagai terapi?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Terapi dan Dzikir
Terapi adalah upaya pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan kondisi psikologis.[1] Terapi dalam bahasa inggris bermakna pengobatan dan penyembuhan, sedangkan dalam bahasa arab, kata ini sepadan dengan الاستشفاء yang mempunyai makna penyembuhan.[2]
Dalam pengertian luas, terapi dapat berarti pengobatan penyakit secara kerohanian. Terapi mengandung makna penerapan teknis khusus dalam penyembuhan penyakit mental atau kesulitan penyesuaian diri. Terapi juga mempunyai makna upaya sistematis dan terencana dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi klien dengan tujuan mengembalikan, memelihara, menjaga, dan mengembangkan kondisi klien agar akal dan hatinya berada dalam kondisi dan posisi yang proporsional. Manusia-manusia yang akal dan kalbunya yang proporsional inilah yang merupakan sosok manusia yang sehat serta bahagia dunia dan akhirat.[3]
Dzikir berasal dari kata dzakara, artinya mengingat, memerhatikan, mengenang, sambil mengambil pelajaran, mengenang atau mengerti.[4]Al- Qur’an menjelaskan bahwa dzikir berarti membangkitkan daya ingat dan kesadaran.
“ …dengan mengingat Allah (dzikrullah), hati orang-orang beriman menjadi tenang, ketahuilah dengan mengingat Allah SWT, hati menjadi tenang.” (QS. Ar- Rad[13]:28)
Dzikir berarti pula ingat terhadap hukuman-hukuman Allah SWT.
“ sesungguhnya Allah SWT menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dan memberi pelajaran kepada kamu agar kamu dzikir (mengambil pelajaran).
Termasuk dalam pengertian dzikir ialah do’a, membaca Al- Qur’an, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, istigfar, hauqalah, dan lain sebagainya. Dzikir dalam pengertian ingatan atau mengingat Allah SWT hendaknya dilakukan pada setiap saat, artinya kegiatan apapun yang dilakukan oleh seorang muslim dimanapun ia berada, hendaknya senantiasa mengingat Allah SWT, sehingga melahirkan cinta beramal sholeh kepada Allah SWT dan malu berbuat dosa dan maksiat kepada- Nya.[5]

B.     Hubungan Terapi dan Dzikir
Sebagian ahli kedokteran jiwa telah meyakini bahwa penyembuhan penyakit  klien dapat dilakukan lebih cepat jika memakai cara pendekatan keagamaan, yaitu dengan membangkitkan potensi keimanan kepada Tuhan lalu menggerakkannya ke arah pencerahan bathiniah. Dengan kondisi batin yang tercerahkan inilah, akhirnya timbul kepercayaan diri bahwa Tuhan adalah satu-satunya kekuatan penyembuhan dari berbagai penyakit yang dideritannya. Kepercayaan inilah yang menjadi daya dorong yang kuat bagi kesembuhan penyakit batin yan dialami manusia.
Sebagian orang mengakui bahwa dzikir juga mengandung terapi untuk menghilangkan gangguan setan. Selain itu, dzikir juga dapat mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa. Membuat kepribadian tampak mengesankan , memulihkan dan menghidupkan hati, menghapus kesalahan dan kekhilafan, menjaga perkataan dari gossip dan fitnah, obat bagi seluruh macam penyakit, menghilangkan sifat kepurak-puraan atau sifat munafik.
Dari penjelasan ini, tampak bahwa ada hubungan yang erat antara dzikir dengan terapi. Dan, dzikir merupakan cara yang terbaik untuk mengobati penyakit-penyakit, khususnya penyakit kerohanian.
C.     Manfaat dan Dzikir yang Dianjurkan oleh Syariat
a.       Manfaat Berdzikir
1.      Memantapkan hati
2.      Energy akhlak
3.      Terhindar dari bahaya
4.      Terapi jiwa
b.      Dzikir yang dianjurkan oleh syariat
Diantara dzikir shahih yang sering diucapkan oleh Nabi SAW adalah penghulu istigfar, yang bunyinya:
اللهم انت ربي لا اله الا انت خلقتني وانا عبدك وانا على عهدك ووعدك ما استطعت اعوذبك من شر ماصنعت ابوءلك بنعمتك علىي ابوءلك بذنبي فاغفرلي فاءنه لا يغفر الذنوب الاانت
“ Ya Allah SWT, Engkau adalah Tuhanku,tiada Tuhan yang wajib disembah selain Engkau. Engkaulah yang telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu dan aku berada dalam janji dan ikrar kepada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku lakukan, aku mengakui semua nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku, dan aku mengakui semua dosaku, maka ampunilah daku, karena sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa-dosa,selain engkau.”[6]
Dzikir lainnya adalah yang disebutkan dalam hadits yang telah terbukti keshahihannya. Dzikir yang paling afdhal yang diucapkan oleh seseorang pada siang dan malam hari, yaitu:
سبحان الله وبحمده عدد خلقه ورضا نفسه وزنةعرشه ومدادكلماته
“ Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, ridha diri-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta-tinta kalimat-Nya.”[7]
Bila berada pada pagi hari, ucapkanlah dzikir berikut sebanyak tiga kali:
 اعوذبكلماتالله التامات من شر ما خلق
“ aku berlindung dengan menyebut kalimat-kalimat Allah SWT yang sempurna, dari kejahatan semua makhluk.”[8]
Bila berada pada pagi hari dan petang hari, ucapkanlah dzikir berikut sebanyak tiga kali:
بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الارض ولا في السماء وهو السميع العليم
“ Dengan menyebut nama Allah SWT yang dengan menyebut nama-Nya tidak akan dapat menimbulkan bahaya sesuatu pun. Baik yang ada dibumi maupun yang ada dilangit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mendengar.”[9]

D.     Cara Berdzikir
Dzikir yang diperintahkan Allah SWT dapat dilakukan dengan qauliy, yakni dengan mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil, dan sebagainya. Dengan kata lain dzikir dengan menyebut nama Allah SWT dan sifat-Nya. Dalam kaitan ini Allah SWT memerintah:
“ …dan sebutlah Tuhanmu (waktu) pagi dan petang.”(QS.Al- Insan[76]:25)
Pada dasarnya, dzikir dilaksanakan dalam beberapa cara dan kesopanan tertentu sesuai dengan pinsip-prinsip yang ditentukan oleh Al- Qur’an dan contohnya oleh Rasulullah SAW, yakni dilakukan dengan merendahkan diri, dan penuh takut, tidak mengeraskan suara. Namun dalam tempat yang khusus, seperti dirumah atau ditempat lain yang sekiranya tidak mengganggu orang lain, kita diperintah untuk berdzikir dengan suara keras sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Nur:
“ Di masjid-masjid, Allah SWT mengizinkan untuk mengingat dan menasbihkan Allah SWT dengan suara keras pada pagi dan petang.”(QS.An-Nur[24]:36)
Ayat tersebut bisa dibandingkan dengan surat Al-Mulk[67]:13). Rasulullah SAW pernah menegur sahabatnya yang berdzikir dengan suara keras. Nabi SAW memberi petunjuk:
“ Hai manusia berlemah-lemahlah atas dirimu. Ketahuilah bahwa engkau tidak menyeru kepada yang pekak atau yang jauh. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan dekat.”
Dengan demikian, etika dzikir ialah dengan suara sedang,tidak keras, dan tidak lirih.
Model dzikir yang kedua ialah dzikir sirr atau dzikir qalbi, yaitu berdzikir tanpa suara hanya difokuskan didada sebelah kiri, misalnya merasakan ismudz dzat : “Allah”, dengan cara lidah ditempelkan dilangit-langit mulut, mata terpejam, dagu agak menunduk kekiri, pusatkan pikiran dan perasaan kedada sebelah kiri, dua jadi dibawah dada.
Model dzikir yang ketiga ialah dzikir Ar-Ruh, yaitu dzikir dalam arti seluruh jiwa raganya tertuju untuk selalu ingat kepada-Nya. Dzikir yang keempat ialah dzikir fi’liy(aktivitas social), yakni berdzikir dengan melakukan kegiatan praktis, amal sholeh, dan menginfakkan sebagian harta untuk kepentingan social, melakukan hal-hal yang berguna bagi pembangunan bangsa dan Negara serta agama.
Dzikir yang kelima ialah dzikir afirmasi, yaitu dzikir dengan mengucapkan kata-kata positif. Dilaksankan di pagi hari dan petang, sebelum matahari terbit dan matahari terbenam. Model dzikir yang keenam ialah dzikir pernafasan atau pernafasan dzikrullah.

E.     Jiwa Manusia
Jika dipandang secara keseluruhan, manusia terdiri atas dua dimensi, yaitu dimensi jasmani dan dimensi rohani. Unsur rohani yang dimaksud ialah jiwa.
Socrates mengatakan bahwa jiwa merupakan wujud rohani yang lepas (independen). Jika wujud itu diabaikan atau ditinggalkan, niscaya akan timbul kebodohan dan akal memproduksi pemikiran-pemikiran yang mandul serta resah. Plato juga mengatakan bahwa jiwa berada itu adalah substans yang independen dari anggota tubuh dan hubungan diantara keduanya, yaitu antara jiwa dan jism. Al-Hakim At-Tirmdzi mengatakan bahwa pengertian jiwa ialah:
“Jiwa merupakan bunyi syahwat yang cenderung pada syahwat selain melakukan syahwat dan harapan setelah melakukan harapan. Jiwa tidak pernah merasa tenang dan diam, perbutan-perbuatannya selalu berbeda. Perbuatan satu dengan perbuatan yang lainnya sama sekali tidak mengandung kesamaan. Pada suatu saat berupa ubudiyah, pada saat yang lain berupa rububiyah. Pada saat yang lain berlagak menyerah, dan pada saat yang lain bersifat ingin memiliki kekuatan. Namun demikian, jika jiwa itu dilatih, niscaya dapat diarahkan.[10]
Al-Kharaj mengatakan: “ jiwa itu diumpamakan air yang tergenang suci, dan bersih. Jika air itu digerakkan, akan tampak kekotoran yang terdapat dibagian dasar air. Begitu juga jiwa akan tampak, jika diuji apakah jiwa itu sabar atau menentang. Barang siapa yang tidak mengenal jiwanya, bagaimanakah ia akan mengenal Rabb-nya?” Al- Junaidi berkata: “ Sesungguhnya jiwa apabila meminta sesuatu kepada tamu, terus menuntut sampai kapanpun sampai berhasil, kecuali jika jiwa itu tetap berada didalam al mujahadah, sampai jiwa itu terbiasa dengan kejujuran dan al mujahadah.”[11]
At-Tirmidzi memiliki tiga pendapat mengenai jiwa, yaitu:
1.      An-Nafs (jiwa) bermakna nafas yang dapat memberikan hidup dan nafas itu terpancar dari roh, seperti meluapnya sesuatu keatas kebawah.
2.      An-Nafs (jiwa) sebagai gharijah (insting) yang dihiasi oleh setan dengan segala bentuk tipu daya yang bertujuan untuk menang dan merusak. Dalam posisi ini jiwa sangat lemah dihadapan setan.
3.      An-Nafs (jiwa) sebagai teman dan penolong setan dan jiwa semacam ini ikut serta dalam kesehatan, dalam kesejahteraan, bahkan merupakan bagian dari kejahatan.

F.      Bacaan Sholat Sebagai Terapi
1.      Takbiratul ihram
Takbiratul ihram ialah bacaan “ Allahu Akbar”. Bacaan ini merupakan sebuh pengakuan, bahwa Allah Maha Besar, sementara kita hanyalah makhluk kecil yang tak berarti dihadapan Allah. Dia yang menciptakan alam semesta. Allah yang mengatur,memelihara, dan menguasainya. Disini terdapat pengakuan bahwa kesombongan kita, kebesaran nama kita, ketinggian derajat kita dihadapan manusia, semuanya tidak berarti apa-apa di “mata” Allah SWT. Tidak adanya takabur (merasa paling besar, paling tinggi, paling kaya, dan lain sebagainya), ujub (merasa ada yang lebih dari pada diri kita disbanding dengan orang lain, sehingga kita merasa bangga berlebihan pada diri sendiri), ria (suka pamer), dan sifat-sifat negative lainnya. Semua sifat itu telah membuat kita dibenci semua orang, baik secara sadar, maupun tidak. Padahal jika sifat-sifat itu hilang, niscaya kita akan disukai Allah dan banyak orang.
Ucapan takbiratul ihram yang mencapai 94 kali dalam 17 rakaat, apabila dihayati, maka akan dapat menghilangkan sifat-sifat buruk tersebut.

2.      Iftitah
Iftitah, sesuai dengan  namanya adalah doa pembuka dalam sholat. Sama seperti takbiratul ihram, doa iftitah merupakan serangkaian pengakuan yang jujur atas kebesaran Allah SWT. Doa yang dibaca antara lain:
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا, وسبحان لله بكرة ا و اصيلا. اني وجهت وجهي للذي فطر السموات والارض حنيفا مسلما وما انا من المشركين. ان صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين.لا شريك له وبذالك امرت وانا من المسلمين
“ Allah Maha Besar, segala kebesaran hanyalah milik-Mu, semua pujian hanyalah untuk-Mu, Maha suci Engkau ya Allah, pada pagi dan sore. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku dan segenap organ tubuhku, hanya kepada-Mu, wahai yang Maha Mencipta langit dan bumi. Aku menghadap diriku dengan tulus dan dengan penuh ketundukan dan aku bukanlah orang-orang yang menyekutukan-Mu. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk-Mu wahai Tuhan yang menguasai alam semesta. Tiada sekutu bagi-Nya, dan atas dasar itulah aku akan berbuat segala sesuatu di muka bumi, dan aku adalah bagian dari orang-orang yang berserah diri.”
Doa diatas adalah bentuk kepasrahan diri secara total kepada Allah SWT, secara etika, seseorang yang berdo’a hendaknya dengan sungguh-sungguh, dengan kepasrahan, dan ketundukan hati secara penuh menghadap Allah.
Doa ini mengajarkan kita agar selalu merendah dalam bergaul dengan sesama, optimis dengan berserah diri kepada Allah SWT, setia dengan tidak menyekutukannya dengan orang lain. Orang yang menyombongkan diri, jika memahami dan menghayati bacaan ini, mesti tidak lagi berbuat yang sama, orang yang suka pesimis, niscaya akan bangkit dengan tawakal kepada Allah, yakin usahanya mencapai sesuatu. Orang yang suka selingkuh, dengan falsafah do’a ini, niscaya tidak akan selingkuh. Sikap mental optimis, setia, dan rendah hati adalah sikap yang dibawa oleh pikiran dan perasaan orang yang sholat. Salah satu terapi mental terletak pada bagian ini.
3.      Surat Al-Fatihah
Dikatakan Al-Fatihah, karena surat ini berfungsi sebagai pembuka. Dalam sholat, surat ini menjadi rukun yang harus dilakukan.
“ segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tuhan yang menguasai hari pembalasan. Kepada-Mu-lah kami menyembah, dan kepada-Mu-lah kami memohon pertolongan. Tunjukanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.”
Beberapa hal yang harus digaris bawahi tentang doa dalam Al-Fatihah, antara lain keinginan untuk menggantungkan segala urusan kepada Allah, keinginan untuk mendapatkan jalan yang benar,dan keinginan agar terhindar dari kemurkaan Allah.
Keinginan-keinginan tersebut jika ditindak lanjuti,maka akan membuahkan sikap positif. Sikap positifnya terletak pada kemauan keras untuk selalu berbuat baik,optimis usaha pasti berhasil, sebab digantungkan pada kehendak Allah, dan selalu berusaha menghindar dari perbuatan-perbuatan yang bakal dimurka Allah. Mentalis semacam ini akan sangat bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan hubungan dengan makhluk di muka bumi.
4.      Ayat-ayat pendek
Membaca ayat-ayat pendek, selain adakalanya berupa doa, berupa peringatan, dan lain sebagainya, ia juga akan berefek positif tehadap pendengaran jika dibaca dengan indah.sebagai mana telah diketahui bahwa suara indah akan membawa efek terapi, yang disebut dengan sound therapy.
5.      Rukuk
Bacaan rukuk adalah ungkapan pujian akan kemaha kuasaan dan keagungan Allah. Kalimat yang lazim di ucapakan adalah:
سبحان ربي العظيم وبحمده
“ Maha suci Engkau, Tuhan yang Maha Agung dan Maha Terpuji”.
Ungkapan ini sekaligus memberikan tuntutan agar kita tidak menganggap bahwa diri kita adalah yang paling suci, paling agung, di antara manusia yang lain. Dengan demikian kita tidak akan memandang orang lain secara hina.
Sikap dan bacaan ini, adalah terapi psikis bagi orang-orang yang memiliki sikap sombong dan suka memandang rendah orang lain. Dari bacaan ini ada pengakuan bahwa hanya Allah yang Maha Suci, Maha Agung. Sehingga, pandangan seseorang yang shalat terhadap orang lain akan menjadi setara.
6.      Iktidal
سمع الله لمن حمده
“ Allah pasti mendengar orang-orang yang memuji-Nya.”
Kemudian dilanjutkan dengan berdo’a:
ربنا ولك الحمدملءالسموات وملءالارض وملءماشعت من شيء بعد
“ Wahai Tuhan kami. Untuk-Mulah pujian yang kami sampaikan, pujian meliputi langit dan bumi segala sesuatu keduanya.
Ketika membaca bacaan rabbana walakal hamdu, lepaskan hati kita dari sifat congkak, sombong, dan pongah, karena sama sekali tidak berhak untuk dipuji, hanya Dia yang berhak untuk dipuji, jika masih ada sifat-sifat tersebut, maka lepaskan, serahkan segala kepada-Nya.
7.      Sujud
Sujud dilakukan sesudah I’tidal dengan ungkapan tersebut, kemudian dipertegas dalam gerakan sujud. Oleh karena itu adalah posisi ketundukan total kepada-Nya. Kita benar-bear tak berdaya dihadapan-Nya. Ungkapan yang disampaiakan:
سبحان ربي الاءعلي وبحمده
“ Maha Suci Engkau, Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha terpuji karena-Nya.”
Biasanya kata sujud sering diungkapkan ketika seseorang merasa muak dengan orang lain yang menyalahi dirinya. Ia enggan untuk memaafkan, maka kalimat yang keluar bisa seperti “ aku tak sudi memaafkannya, meski ia bersujud dihadapanku”. Manusia tidak berhak disembah, yang boleh disembah hanyalah Allah SWT. Untuk menghilangkan ego semacam ini, dilakukan dengan memahami dan menghayati makna sujud secara mendalam.
8.      Duduk diantara Dua Sujud
Kalimat yang dibaca pada saat duduk diantara dua sujud adalah kalimat doa yang merupakan kebutuhan hidup kita sehari-hari. Doa ini berisi delapan permohonan manusia yaitu ampunan, kasih asayang, menutup kekurangan, diangkat derajat, rezeki, kesehatan, dan pemaaf.
Menghayati setiap kata dalam doa ini akan membuat kita sadar bahwa segala sesuatu yang kita usahakan di dunia ini hanyalah atas kehendak Allah.
9.      Tasyahud
Dikatakan tasyahud karena di dalam bacaan ini terdapat syahadat Tasyahud merupakan penegasan kesetiaan dan komitme kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, Tasyahud berbentuk dialog yang cantik antara manusia dengan Tuhan.
10.  Salam
Salam, megucapkan doa keselamatan untuk orang lain, dengan cara menengok ke kanan dan kekiri, sebagai pertanda bahwa shalat telah selesai. Ucapan dan gerakannya mengandung pengertian bahwa setelah shalat kita tidak boleh melupakan sekeliling kita.  

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Terapi adalah upaya pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan kondisi psikologis. Dzikir berasal dari kata dzakara, artinya mengingat, memerhatikan, mengenang, sambil mengambil pelajaran, mengenang atau mengerti. Sebagian orang mengakui bahwa dzikir juga mengandung terapi untuk menghilangkan gangguan setan. Selain itu, dzikir juga dapat mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dari penjelasan ini, tampak bahwa ada hubungan yang erat antara dzikir dengan terapi. Dan, dzikir merupakan cara yang terbaik untuk mengobati penyakit-penyakit, khususnya penyakit kerohanian. Manfaat Berdzikir: Memantapkan hati, Energy akhlak, Terhindar dari bahaya, Terapi jiwa.
Dzikir yang diperintahkan Allah SWT dapat dilakukan dengan qauliy, yakni dengan mengucapkan tasbih, tahmid, tahlil, dan sebagainya. Dengan kata lain dzikir dengan menyebut nama Allah SWT dan sifat-Nya. Model dzikir yang kedua ialah dzikir sir atau dzikir qalbi, Model dzikir yang ketiga ialah dzikir Ar-Ruh, Dzikir yang kelima ialah dzikir afirmasi. At-Tirmidzi memiliki tiga pendapat mengenai jiwa, yaitu:
1.   An-Nafs (jiwa) bermakna nafas yang dapat memberikan hidup dan nafas itu terpancar dari roh, seperti meluapnya sesuatu keatas kebawah.
2.      An-Nafs (jiwa) sebagai gharijah (insting) yang dihiasi oleh setan dengan segala bentuk tipu daya yang bertujuan untuk menang dan merusak. Dalam posisi ini jiwa sangat lemah dihadapan setan.
3.      An-Nafs (jiwa) sebagai teman dan penolong setan dan jiwa semacam ini ikut serta dalam keshatan, dalam kesejahteraan, bahkan merupakan bagian dari kejahatan.
Bacaan Sholat Sebagai Terapi  yaitu dalam bacaan Takbiratul ihram, Iftitah,surat al-fatihah, surat pendek, rukuk, I’tidal, sujud, Duduk diantara Dua Sujud, Tasyahud,salam.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bukhari,Shahih Bukhari,Sulaiman Mar’i,Singapura,tt.
Al-Ghazali,Ihya’Ulum ad-Din,Masyhad al-Husaini,Kairo,tt.
Al-Munawir , Ahmad Warson, Al- Munawi;Kamus Arab-Indonesia.  Yogyakarta: Pustaka Progresif,1997.
Al-Qorni ,Aidh bin Abdullah. Hidupkan Matamu (Bandung: Irsyad Baitus Salam,2005).
An-Najar,Amir. Ilmu Jiwa dalam Tasawuf . Jakarta:Pustaka Azzan,2001.
Gerald, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung:Eresco,1995.
J.P, Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1999.
Muslim,Shahih Muslim,Masyhad al-Husaini,Mesir,tt.
Syukur,M. Amin, dan Fatimah Usman. Terapi Hati (Jakarta:Penerbit Erlangga,2012).
Syukur,M. Amin. Sufi Healing:Terapi dengan Tasawuf. Jakarta:Penerbit Erlangga,2012.
Solihin, Terapi Sufistik; Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Perspektif Tasawuf .Bandung:Pustaka Setia,2004.
Tirmidzi,Hakim,Bayan al-firaq baina Qalb,Shadr,Fu’ad wa Lubb,Kairo, Maktabah Misriyah,tt.







[1] J.P, Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,1999)h.507.
[2] Ahmad Warson Al-Munawir, Al- Munawi;Kamus Arab-Indonesia ( Yogyakarta: Pustaka Progresif,1997)h.1545.
[3] Gerald, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (Bandung:Eresco,1995)h.6.
[4] M. Amin Syukur, dan Fathimah Usman, Terapi Hati (Jakarta:Erlangga,2012)h.59.
[5] Solihin, Terapi Sufistik; Penyembuhan Penyakit Kejiwaan Perspektif Tasawuf (Bandung:Pustaka Setia,2004)h.85.
[6] (Bukhari No. 6161,6178, Tirmidzi No.3524,dan Ahmad No. 16785, 16804)
[7] (Muslim No.6863, Abu Dawud No. 1504, dan Tirmidzi No.3698).
[8] (Muslin No.6829, Tirmidzi No. 3570, dan Ahmad No. 26719).
[9] (Abu Dawud No.5083, Tirmidzi No.3519, Ahmad No. 476,529, Nasai dalam Al- Kubra No.9747.10081,dan Ibnu Majah No.3953, Al- Misykat No.2391)
[10] Amir An-Najar, Ilmu Jiwa dalam Tasawuf (Jakarta:Pustaka Azzan,2001).h.22
[11] Amir An-Najar, Ilmu Jiwa dalam Tasawuf.,38.